surga tersembunyi di tengah kota
Tamansari. Salah satu objek wisata yang sudah melegenda dan
menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi wisatawan yang datang dan berkunjung
ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain Keraton Yogyakarta, Tamansari bagaikan ikon
yang memang sudah termasuk dalam list perjalanan wisatawan yang berkunjung.
Harga tiket yang murah (satu kali masuk hanya dikenakan biaya Rp 5000 untuk
wisatawan nusantara dan Rp 12000 untuk wisatawan asing) dan juga keindahan
eksotis puing-puing bekas pulau buatan yang merupakan tempat keluarga keraton menghabiskan
waktunya dan mandi di kolam pemandian utama. Ketika masuk ke objek wisata ini,
tentu saja kita akan terpana akan arsitekturnya yang sangat menggambarkan
ke-“Yogyakarta”-annya. Dilihat dari ukiran dan bentuk bangunan yang ada. Ketika
berada di gerbang utama pintu masuk kita akan melihat dua kolam yang dulu
merupakan tempat para permaisuri dan selir raja dan juga putri-putri raja untuk
mandi. Ketika kita masuk ke objek wisata ini, pasti akan terpukau dengan
pesonanya. Seakan-akan kita akan dibawa kembali ke masa lalu. Lorong-lorong
yang ada pun seakan menambah ke mistis-an dan ke unikan dari tamansari sendiri
yang mungkin tak dapat dijumpai dari daerah lain. Apalagi ketika kita
mengetahui bahwa dulunya Tamansari adalah pulau buatan dan konon katanya ada
jalan (semacam kanal / sungai kecil) yang menghubungkan antara keraton dan
Tamansari itu sendiri.
Ketika saya berkunjung ke Tamansari adalah saya kaget dengan
banyaknya rumah warga yang berjubelan di sekitar Tamansari. Keberadaaan rumah
yang ada disekitar Tamansari memang mengurangi kesan eksotis dari Tamansari,
tapi keberadaan warga disana juga tidak dapat dipungkiri, sehingga pihak
pengelola tamansari pun bekerjasama dengan warga agar warga juga dapat
berpartisipasi dalam mengelola tamansari seperti menjadi Tour Guide ataupun
penjaga parkir di sekitar Tamansari. Yang saya sayangkan lagi adalah adanya
jalur masuk belakang, selain masyarakat disana terkesan membiarkan wisatawan
yang datang dengan cara tidak membayar, pengelola tamansari sendiri tidak dapat
memastikan jumlah pasti kunjungan karena wisatawan yang masuk lewat jalur
belakang tidak terhitung oleh pengelola tamansari. Sehingga mungkin, data yang
ada di data pengelola adalah data yang belum valid. Yang saya sayangkan juga,
sebagian warga yang ada di Tamansari yang juag berprofesi sebagai tour guide
terkadang hanya “ikut-ikutan” dan terkesan kurang ramah terhadap pengunjung
yang datang. Padahal jika disampaikan dengan cara yang menarik, cerita dari
legenda di Tamansari akan hidup dan tentu saja membuat wisatawan ingin kembali
datang ke tempat tersebut.
Demikian catatan kritis saya mengenai objek wisata Tamansari
Nur Izza Afkarina. Kepariwisataan B 2014. 14/369048/SV/7206
Nur Izza Afkarina. Kepariwisataan B 2014. 14/369048/SV/7206










